Kamis, 29 Oktober 2009

Berbicara Tentang Michael Jackson

Selasa, 20 Oktober 2009 | 08:28 WIB

KOMPAS.com - Michael Jackson (MJ) adalah seorang ikon atau rajanya dunia pop yang kebesarannya melekat dan menginspirasi banyak orang lewat musik yang dia buat, talenta yang ia miliki, dan profesionalisme yang ia pegang teguh.

Berbicara tentang sosok MJ adalah sangat menarik. Di atas panggung dunia musik, kebesaran brand Michael Jackson sudah tidak perlu diragukan. Orang mengakui prestasinya, karena memang personal brand-nya memang sangat kuat. Tapi di sisi lain, di luar panggung, banyak orang yang seakan tercampur aduk feeling-nya ketika harus menilai karakter dari sebuah individu bernama Michael Jackson. Tentunya hal ini dikarenakan banyak hal, terutama karena berbagai masalah kontroversial yang menghantam karakter dirinya pribadi.

Terlepas dari itu semua, satu pelajaran bermakna dari seorang MJ yang menarik untuk dibahas adalah mengenai bagaimana dirinya di dalam dan di luar panggung selalu menjadi bahan percakapan orang.

Ketika ia masih hidup, banyak orang yang terwah-wah dengan hasil seni yang ia ciptakan, lihat saja gaya outfit-nya yang membuat orang berpikir bahwa pakaian bergaya militan adalah bagian dari dunia pop. Lihat pula berbagai praktek kolaborasi yang ia lakukan (di studio, di atas panggung, atau di dalam video klip) bersama artis lain baik itu penyanyi, gitaris, aktor dan artis film, sutradara, sampai simpanse dan panther sekalipun.

MJ bukan saja membantu MTV untuk menemukan jati diri dan legitimasinya sebagai sebuah bagian dari dunia pop marketing, tapi ia juga ikut mendefinisikan perang Cola lewat endorsementnya dengan Pepsi yang membuat standar baru pembuatan video iklan yang berkualitas dan sangat entertaining.

Berita tentang kematiannya belum lama ini didapati orang bukan lagi lewat Televisi atau bahkan omongan tetangga dan orang-orang di kantor. Kalau 10 tahun yang lalu, mungkin begitu adanya. Tapi sekarang di era New Wave yang serba terkoneksi, informasi bisa didapatkan di mana-mana, disebarluaskan oleh siapa saja, dan semuanya secara real-time. Tak heran kalau mungkin lebih banyak orang yang pertama kali mendengar berita MJ meninggal malah lewat situs jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook ketimbang TV.

Kematiannya memicu eksploitasi besar-besaran jejaring sosial. Dan ketika itu kita melihat betul bahwa dunia memang sudah semakin berubah, di mana dengan adanya Twitter, Facebook, dan lain sebagainya, ucapan bela sungkawa pun bisa dikoordinir secara komunal.

Google, salah satu simbol connector di planet New Wave, sempat ’mati’ selama 35 menit ketika jutaan orang yang mengetik nama Michael Jackson malah diberi respon ’error page.’ Menurut Google, ketika itu ada semacam gunung meletus di mana mayoritas dari peringkat 100 pencarian terbanyak ketika itu adalah tentang Michael Jackson. Di Facebook, fan page MJ dapat menarik sekitar 20 orang fans per detik. Belum lagi di Yahoo, di mana sebuah blog berjudul ”Losing Michael Jackson” mendapatkan traffic terbanyak sepanjang masa di mana ia dikunjungi 16.4 juta pengunjung, lebih banyak ketimbang isi blog mengenai pemilu di Amerika serikat yang mana dicatat oleh Yahoo mendapatkan pengunjung sebesar 15.1 juta orang.

MJ: The Man in the Conversation

Pada saat diwawancarai dengan Larry King di stasiun TV CNN setelah MJ meninggal, Jermaine Jackson mengatakan bahwa MJ selama ini pandai dalam menggunakan media. Memang betul. Kesuksesannya di dunia pop marketing terutama sepanjang karir solonya di dekade 80an hingga awal 90an, bisa dibilang dibentuk karena media yang ada.

Di era solo karirnya, MJ memang dibesarkan oleh media terutama network televisi berskala global seperti MTV. Karena MTV-lah, ratusan juta manusia dapat melihat bagaimana MJ menari ala zombie di video klip “Thriller,” menjadi preman di “Beat It”, menjadi gangster di ”Smooth Criminal,” dicari-cari Cleopatra di “Remember the Time” dan banyak video lainnya yang betul-betul breakthrough.

Sebelum ada MTV, orang-orang memang sudah melihat talenta yang dimiliki oleh MJ terutama ketika ia masih bersama-sama saudaranya di Jackson 5 dari akhir 1960an dan sepanjang dekade 1970an. Acara legendaris seperti Ed Sullivan Show, event di TV dengan Diana Ross, variety show seperti The Jacksons, sampai acara kartun yang diproduksi oleh Rankin dan Bass. Tapi itu semua hanya masih lokal sifatnya karena ditonton oleh orang-orang di Amerika.

Dengan adanya MTV yang dapat merangkul ratusan juta penonton di seluruh dunia lewat satelit, maka otomatis fans di luar Amerika yang tadinya hanya mendengar jadi bisa melihat langsung gerakan kaki MJ di setiap videonya.

Buat MJ, MTV bukan saja salah satu media untuk promosi album atau single baru, namun juga sarana untuk menyihir dan memvisualisasikan daya kreativitasnya dalam berkoreografi, menulis screenplay, memproduksi sebuah video berkelas, yang mana sama-sama diranking first-class dengan kemampuan dia dalam bernyanyi.

Boleh dikatakan bahwa MJ-lah yang ’mengajari’ artis-artis lain dalam pembuatan video musik. Sebagai seorang professional dan perfeksionis sejati, semua video klip yang dibuatnya memang tidak main-main dari segi biaya, desain visual, model, penyutradaraan, sampai durasi-nya yang kelewat standar yang berlaku pada saat itu.

Kesuksesan MJ di dalam marketing setidaknya bisa dilihat dari tiga aspek; brandnya yang sangat kuat, komunitas penggemar, dan produknya. Dari segi branding, tentunya tidak perlu lagi diragukan, sudah ada berbagai julukan yang diberikan kepadanya mulai dari ’entertainer paling sukses sepanjang masa’ sampai ”King of Pop.” MJ adalah ikon di dunia yang telah menjadi bagian dari budaya pop.

Fans-nya yang transendental, lintas generasi dan lintas ras di seluruh dunia. Ketika ia dibawa ke pengadilan untuk kasus pelecehan seksual, fans MJ tetap membelanya, sekalipun tahu bahwa ia menyuap keluarga penuntut untuk tutup mulut.

Produk yang dikeluarkan oleh MJ, apakah itu album studio, video klip, tur dan konser, buku dan alat marketing lainnya, selalu dibuat habis-habisan dengan menonjolkan sisi perfeksionisnya, karena ia tahu bahwa bukan saja media yang akan suka, tapi penggemarnya juga akan terkonek dengan dirinya. Maka tak heran kalau ia punya puluhan lagu yang hit nomor satu, 13 grammy, berhasil menjual 750 juta lebih kopi, dan memiliki album terlaris sepanjang masa.

Entah didesain atau secara tidak sengaja, hasil kreasi seni yang dikeluarkan oleh MJ selalu dibicarakan di mana-mana, sepanjang karirnya, ketika dikabarkan mati, bahkan hingga kini setelah mati (seperti yang ada di komunitas ”We miss Michael Jackson”). MJ seakan dengan mudah menjadi the man in the conversation.


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/10/20/08285856/berbicara.tentang.michael.jackson

Berbicara Tentang Michael Jackson

Selasa, 20 Oktober 2009 | 08:28 WIB

KOMPAS.com - Michael Jackson (MJ) adalah seorang ikon atau rajanya dunia pop yang kebesarannya melekat dan menginspirasi banyak orang lewat musik yang dia buat, talenta yang ia miliki, dan profesionalisme yang ia pegang teguh.

Berbicara tentang sosok MJ adalah sangat menarik. Di atas panggung dunia musik, kebesaran brand Michael Jackson sudah tidak perlu diragukan. Orang mengakui prestasinya, karena memang personal brand-nya memang sangat kuat. Tapi di sisi lain, di luar panggung, banyak orang yang seakan tercampur aduk feeling-nya ketika harus menilai karakter dari sebuah individu bernama Michael Jackson. Tentunya hal ini dikarenakan banyak hal, terutama karena berbagai masalah kontroversial yang menghantam karakter dirinya pribadi.

Terlepas dari itu semua, satu pelajaran bermakna dari seorang MJ yang menarik untuk dibahas adalah mengenai bagaimana dirinya di dalam dan di luar panggung selalu menjadi bahan percakapan orang.

Ketika ia masih hidup, banyak orang yang terwah-wah dengan hasil seni yang ia ciptakan, lihat saja gaya outfit-nya yang membuat orang berpikir bahwa pakaian bergaya militan adalah bagian dari dunia pop. Lihat pula berbagai praktek kolaborasi yang ia lakukan (di studio, di atas panggung, atau di dalam video klip) bersama artis lain baik itu penyanyi, gitaris, aktor dan artis film, sutradara, sampai simpanse dan panther sekalipun.

MJ bukan saja membantu MTV untuk menemukan jati diri dan legitimasinya sebagai sebuah bagian dari dunia pop marketing, tapi ia juga ikut mendefinisikan perang Cola lewat endorsementnya dengan Pepsi yang membuat standar baru pembuatan video iklan yang berkualitas dan sangat entertaining.

Berita tentang kematiannya belum lama ini didapati orang bukan lagi lewat Televisi atau bahkan omongan tetangga dan orang-orang di kantor. Kalau 10 tahun yang lalu, mungkin begitu adanya. Tapi sekarang di era New Wave yang serba terkoneksi, informasi bisa didapatkan di mana-mana, disebarluaskan oleh siapa saja, dan semuanya secara real-time. Tak heran kalau mungkin lebih banyak orang yang pertama kali mendengar berita MJ meninggal malah lewat situs jejaring sosial seperti Twitter dan Facebook ketimbang TV.

Kematiannya memicu eksploitasi besar-besaran jejaring sosial. Dan ketika itu kita melihat betul bahwa dunia memang sudah semakin berubah, di mana dengan adanya Twitter, Facebook, dan lain sebagainya, ucapan bela sungkawa pun bisa dikoordinir secara komunal.

Google, salah satu simbol connector di planet New Wave, sempat ’mati’ selama 35 menit ketika jutaan orang yang mengetik nama Michael Jackson malah diberi respon ’error page.’ Menurut Google, ketika itu ada semacam gunung meletus di mana mayoritas dari peringkat 100 pencarian terbanyak ketika itu adalah tentang Michael Jackson. Di Facebook, fan page MJ dapat menarik sekitar 20 orang fans per detik. Belum lagi di Yahoo, di mana sebuah blog berjudul ”Losing Michael Jackson” mendapatkan traffic terbanyak sepanjang masa di mana ia dikunjungi 16.4 juta pengunjung, lebih banyak ketimbang isi blog mengenai pemilu di Amerika serikat yang mana dicatat oleh Yahoo mendapatkan pengunjung sebesar 15.1 juta orang.

MJ: The Man in the Conversation

Pada saat diwawancarai dengan Larry King di stasiun TV CNN setelah MJ meninggal, Jermaine Jackson mengatakan bahwa MJ selama ini pandai dalam menggunakan media. Memang betul. Kesuksesannya di dunia pop marketing terutama sepanjang karir solonya di dekade 80an hingga awal 90an, bisa dibilang dibentuk karena media yang ada.

Di era solo karirnya, MJ memang dibesarkan oleh media terutama network televisi berskala global seperti MTV. Karena MTV-lah, ratusan juta manusia dapat melihat bagaimana MJ menari ala zombie di video klip “Thriller,” menjadi preman di “Beat It”, menjadi gangster di ”Smooth Criminal,” dicari-cari Cleopatra di “Remember the Time” dan banyak video lainnya yang betul-betul breakthrough.

Sebelum ada MTV, orang-orang memang sudah melihat talenta yang dimiliki oleh MJ terutama ketika ia masih bersama-sama saudaranya di Jackson 5 dari akhir 1960an dan sepanjang dekade 1970an. Acara legendaris seperti Ed Sullivan Show, event di TV dengan Diana Ross, variety show seperti The Jacksons, sampai acara kartun yang diproduksi oleh Rankin dan Bass. Tapi itu semua hanya masih lokal sifatnya karena ditonton oleh orang-orang di Amerika.

Dengan adanya MTV yang dapat merangkul ratusan juta penonton di seluruh dunia lewat satelit, maka otomatis fans di luar Amerika yang tadinya hanya mendengar jadi bisa melihat langsung gerakan kaki MJ di setiap videonya.

Buat MJ, MTV bukan saja salah satu media untuk promosi album atau single baru, namun juga sarana untuk menyihir dan memvisualisasikan daya kreativitasnya dalam berkoreografi, menulis screenplay, memproduksi sebuah video berkelas, yang mana sama-sama diranking first-class dengan kemampuan dia dalam bernyanyi.

Boleh dikatakan bahwa MJ-lah yang ’mengajari’ artis-artis lain dalam pembuatan video musik. Sebagai seorang professional dan perfeksionis sejati, semua video klip yang dibuatnya memang tidak main-main dari segi biaya, desain visual, model, penyutradaraan, sampai durasi-nya yang kelewat standar yang berlaku pada saat itu.

Kesuksesan MJ di dalam marketing setidaknya bisa dilihat dari tiga aspek; brandnya yang sangat kuat, komunitas penggemar, dan produknya. Dari segi branding, tentunya tidak perlu lagi diragukan, sudah ada berbagai julukan yang diberikan kepadanya mulai dari ’entertainer paling sukses sepanjang masa’ sampai ”King of Pop.” MJ adalah ikon di dunia yang telah menjadi bagian dari budaya pop.

Fans-nya yang transendental, lintas generasi dan lintas ras di seluruh dunia. Ketika ia dibawa ke pengadilan untuk kasus pelecehan seksual, fans MJ tetap membelanya, sekalipun tahu bahwa ia menyuap keluarga penuntut untuk tutup mulut.

Produk yang dikeluarkan oleh MJ, apakah itu album studio, video klip, tur dan konser, buku dan alat marketing lainnya, selalu dibuat habis-habisan dengan menonjolkan sisi perfeksionisnya, karena ia tahu bahwa bukan saja media yang akan suka, tapi penggemarnya juga akan terkonek dengan dirinya. Maka tak heran kalau ia punya puluhan lagu yang hit nomor satu, 13 grammy, berhasil menjual 750 juta lebih kopi, dan memiliki album terlaris sepanjang masa.

Entah didesain atau secara tidak sengaja, hasil kreasi seni yang dikeluarkan oleh MJ selalu dibicarakan di mana-mana, sepanjang karirnya, ketika dikabarkan mati, bahkan hingga kini setelah mati (seperti yang ada di komunitas ”We miss Michael Jackson”). MJ seakan dengan mudah menjadi the man in the conversation.


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/10/20/08285856/berbicara.tentang.michael.jackson

Brand with Character

Selasa, 27 Oktober 2009 | 08:09 WIB

KOMPAS.com - Dulu istilah brand dianggap lebih suci dibanding marketing. Brand rasanya lebih abstrak, agung, dan magis. Tapi, belakangan istilah brand juga sudah mulai dianggap negatif. Ada yang berpikir branding adalah kegiatan menghias diri dan mengosmetikan sesuatu.

Konsep dasar dari peralihan segitiga PDB (brand-positioning-differentiation) menuju Tripple C (character-clarification-codification) mengacu pada pola pikir new wave di mana ’kebohongan; tidak dapat lagi dilakukan di era yang serba transparan dan saling terhubung. Pertama, Anda tidak lagi bisa bohong, karena informasi benar atau salah mudah didapat. Kedua, konsekuensi dari berbohong semakin parah, nila setitik rusak susu sebelangga.

Di era New Wave, Brand adalah Karakter. Karakter ini adalah isi sesungguhnya (‘the true self’) dari Anda sedangkan brand adalah ‘the cover’ atau bungkus. Contoh yang paling gampang, entitas dengan karakter yang playful dan free thinking seperti Google, MTV, Nickelodeon, W Hotels, Absolut, dan sebagainya tidak membatasi diri pada brand tertentu. Selama jiwa mereka tetap konsisten, brand atau bungkusnya itu bisa saja diubah-ubah. Toh logo-logo mereka terus berganti-ganti. Bahkan jika Anda ke goglogo.com, Anda bisa mengganti logo Google dengan (misalnya) Gogon, dan itu akan terlihat bukan seperti Gogon, tapi melainkan jiwanya Google.

Bahkan perubahan brand seperti ini sering dinantikan oleh para pelanggan mereka. Karena seperti yang dikatakan oleh Valentino Rossi dalam satu iklan “it’s exciting!” Tapi berubah seperti apapun, pelanggan tetap dapat merasakan seperti apa karakter sebenarnya. Itu dia kenapa di dalam bahasan Tripple C dikatakan bahwa brand harus menjelma menjadi karakter yang berkarisma, sebuah karakter yang konsisten akan menjadi karismatik dan memancarkan aura.

Di era New Wave, positioning adalah pengklarifikasian persona Anda. Pola pikir sebelumnya adalah di dalam positioning, kita didorong untuk mengucapkan janji. Karena positioning adalah bagaimana kita memposisikan diri kita kepada konsumen dan janji tersebut kelak akan ditagih oleh sang konsumen. Di dalam clarification, yang penting bukan janjinya, tapi siapa Anda sesungguhnya.

Diferensiasi menjadi kodifikasi dari DNA yang sangat otentik. Konsep diferensiasi biasanya berlandaskan pemikiran bahwa lebih baik jadi sedikit beda dari pada sedikit lebih baik. Dengan demikian harapannya adalah keunikan yang kita miliki akan membawa kita tampil beda diantara yang lain. Hal ini biasanya mendorong perilaku asal beda dari para pemasar, dan diferensiasi yang dijalankan terkadang bersifat tempelan semata.

Dalam konsep codification of DNA, perbedaan yang diharapkan harus bersifat lebih otentik. Dalam hal ini, ada tiga hal yang harus diperhatikan. Pertama, harus berdasarkan orisinalitas. Kita adalah pencipta konsep perbedaan tersebut, bukan meniru keunikan yang dimiliki orang lain. Kedua, memiliki komitmen dan kontinuitas dalam menjalankannya, tidak setengah hati atau coba-coba. Ketiga, adalah benar-benar dipercaya dan diyakini oleh yang menjalankannya, bukan hanya berpura-pura.

Perbedaan yang otentik tersebut dapat diandaikan sebagai kode DNA. Tidak ada manusia yang pernah sama kode DNA-nya bukan? Kemungkinan hanya satu dibanding sekian miliar. Maka dari itu bagaikan kode DNA yang betul-betul unik, maka perbedaan yang relevan di dunia new wave adalah perbedaan yang benar-benar otentik. DNA harus dapat dikodifikasi atau ditata-ulang, asalkan sejalan dengan prinsip-prinsip keotentikan tadi.

Di era New Wave seperti sekarang, konsumen harus bisa mengetahui isi Anda yang sebenar-benarnya. The True You! Apa yang diterima di luar, harus sejalan dengan apa yang ada di dalam. Perusahaan-perusahaan yang sudah di bahas sebelumnya dalam artikel serial New Wave ini, mulai dari Google, Facebook, Harley Davidson, Body Shop, Ducati, sampai Nutella, adalah perusahaan yang ’walk the talk.’ Artinya langkah pemasaran mereka yang wah bukan saja karena brandingnya, tapi karena karakternya yang solid didukung oleh nilai-nilai otentisitas yang mengakar dari dalam ke luar.


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/10/27/08092529/brand.with.character

Process is Collaboration

Kamis, 29 Oktober 2009 | 08:03 WIB

KOMPAS.com - Proses merupakan salah satu faktor pemasaran terpenting. Di dunia pemasaran, proses pada hakekatnya menentukan kualitas (quality), biaya (cost), dan pengiriman produk (delivery) dari perusahaan kepada pelanggannya. Kualitas produk dan jasa merupakan buah hati proses yang baik, yang dimulai dari produksi sampai delivery kepada pelanggan secara tepat waktu, efektif, dan dengan biaya yang efisien.

Dalam konteks kualitas, proses adalah bagaimana perusahaan mampu menciptakan suatu sistem yang pada akhirnya dapat memberikan nilai lebih bagi pelanggan. Di dalam konteks cost, perusahaan perlu menciptakan suatu proses yang bisa meningkatkan efisiensi secara finansial dengan tetap mengedepankan kualitas yang terbaik bagi pelanggan. Sedangkan dalam konteks delivery adalah bagaimana melakukan suatu proses penyampaian produk atau jasa secara tepat dan benar sehingga mampu memuaskan pelanggan. Proses delivery yang tepat waktu jelas dapat membawa nilai lebih tinggi bagi para pelanggan.

Untuk terciptanya kualitas yang baik, biaya yang efisien, dan delivery yang tepat waktu, diperlukan sebuah proses value chain yang tertata dan dikelola secara baik. Maka dari itu, elemen proses di dalam pemasaran legacy terkait dengan berbagai aktivitas yang terkait dengan penciptaan value yang mengkonek sisi supply (bahan baku, logistik ke dalam, proses produksi) dan sisi demand (logistik keluar, dan langkah operasional pemasaran lainnya).

Penciptaan value pada dasarnya ditentukan oleh brand sebagai value indicator, service sebagai value enhancer, dan juga process sebagai value enabler. Dengan demikian, penciptaan nilai bagi pelanggan terwujud karena adanya proses yang baik. Berbagai hal yang mereduksi aktivitas pengikisan nilai dalam perusahaan dapat pula terwujud secara baik apabila ada proses yang baik pula.

Elemen proses di dalam pemasaran bukan saja sangat penting, namun juga sangat kompleks karena ia terkait dengan efisiensi dan efektivitas dari sisi supply dan demand. Selain itu, tentunya juga tidak mudah apabila dalam prakteknya yang dikelola bukan saja proses di internal di dalam perusahaan saja (antar departemen), namun juga melibatkan pihak luar (contohnya supplier, jaringan distribusi, konsumen, dan sebagainya).

Untungnya perkembangan teknologi semakin canggih dan berbagai alat mulai dari EDI, RFID, sistem CRM, sistem ERP dan sebagainya yang dipergunakan oleh perusahaan dalam rangka meningkatkan kinerja supply chain, sudah semakin cerdas.

Di era New Wave, aktivitas perusahaan dalam mendesain, membeli, membuat, dan mengirim sebuah barang atau jasa, tentunya akan lebih horizontal karena didukung oleh kekuatan connectivity dari teknologi informasi. Platform teknologi internet yang ada di Dell dengan inisiatifnya Direct2Dell , IdeaStorm, dan StudioDell adalah contoh bagaimana design bukan saja bisa dilakukan secara customized, tapi juga bisa dilakukan secara komunal.

Praktek yang sama juga dilakukan oleh banyak perusahaan mulai dari P&G, Starbucks, Nike, dan lain-lain. Proses membeli, membuat, dan mengirim barang pun sudah semakin terintegrasi dan transparan, di mana perusahaan tidak lagi melihat supplier sebagai supplier, distributor sebagai distributor, dealer sebagai dealer, customer sebagai customer, tapi mereka semua adalah mitra. Mitra di sini bukan sekedar mitra yang manis dimulut alias lip service saja, tapi betul-betul mitra yang memiliki prinsip dasar partnering, seperti vision, intimacy, dan impact yang selaras antar kedua belah pihak untuk menghasilkan proses yang kolaboratif.


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/10/29/08031289/Process.is.Collaboration

Selasa, 13 Oktober 2009

Ibu Saya Bukan Teman Facebook Saya


Rabu, 30 September 2009 | 09:43 WIB

KOMPAS.com - Kami tertarik dengan tanggapan Ibu Rani yang menulis komennya di www.kompas.com untuk tulisan “Digital Native vs Digital Immigrant” yang dimuat di kolom ini beberapa waktu lalu.

Di sana Ibu Rani mengatakan: “Anak saya umurnya 20 tahun dan adalah contoh digital native karena dia memang hidup 24 jam online….saya adalah digital immigrant, orang yang mencoba untuk bisa masuk ke dunia digitalnya anak saya… Dan yang menyedihkannya, ketika coba ikut Facebook dan add anak saya (lewat friend request), dia malah ignore bukannya malah confirm.”

Ibu Rani ternyata tidak sendirian ikut-ikutan Facebook. Seperti yang telah ditulis sebelumnya, Facebook saat ini semakin dibanjiri oleh ibu-ibu. Menurut data yang dirilis oleh Facebook sendiri, pertumbuhan tercepat populasi di situs jejaring sosial ini adalah segmen 35 tahun ke atas. Dan menurut Erick Qualman dalam Socialnomics, segmen yang juga cukup pesat tumbuhnya adalah wanita umur 55-65 tahun.

Ibu Rani juga bukan satu-satunya yang diabaikan oleh anaknya ketika mengirim friend request di Facebook. Karena ibu-ibu lain pun juga banyak yang di-ignore oleh anak-anaknya. Dan fenomena “My Mom is My Friend, But Not My Facebook Friend” ternyata menjadi fenomena global.

Seorang kolumnis di New York Times, Michelle Slatalla, pernah menulis tentang hal ini di harian tersebut dengan judul “‘OMG My Mom Joined Facebook!!’ Di dalam artikel tersebut ditulis bahwa dinamika dunia Facebook adalah refleksi hubungan kita di dunia offline. Pengalaman yang didapatkan oleh seorang ibu di jaman sekarang ketika masuk ke dunia online lewat Facebook dan malah tidak dianggap oleh anaknya mungkin merefleksikan bahwa si ibu itu tidak menjadi bagian dari jejaring sosial anaknya di dunia offline (baca: nyata).

Lori Aratani menulis hal yang kurang lebih sama di Washington Post di dalam artikel berjudul “When Mom or Dad Asks To Be a Facebook Friend.” Di sana ditulis bahwa semakin banyak orang tua jaman sekarang yang ikut Facebook dan ternyata mereka tidak hanya add anaknya saja, tapi juga teman-teman anaknya. Banyak yang confirm friend request dari orang tua mereka. Tapi banyak pula yang ignore karena kurang sreg untuk memasuki orang tua mereka ke dalam komunitas jejaring mereka di dunia online. Bagi mereka itu “seperti mengajak orang tua ikut main bareng dengan teman-teman.”

Di dalam bukunya “Me, MySpace, and I: Parenting the Net Generation”, Larry Rosen mengatakan bahwa fenomena jejaring sosial dianggap oleh orang tua sebagai jendela yang transparan untuk melihat secara dekat gerak-gerik perilaku anak mereka. Makanya mereka berbondong-bondong masuk ke dunia online ini untuk seakan beraksi ibarat intel. Di sisi lain, anak-anak mereka menganggap dunia online adalah milik mereka, dan orang dewasa (terutama kaum digital immigrant) hanyalah penyusup.

Confirm or Ignore?

Internet membuat dunia semakin transparan. Di dalam situs jejaring sosial seperti Facebook, MySpace, Twitter, Plurk, dan lain sebagainya, kita bisa tahu banyak hal termasuk apa yang dilakukan, dirasakan, dikatakan oleh teman kita. Di situs tersebut, berbagai hal yang sifatnya pribadi bisa kita lihat di halaman profil mereka.

Ada yang sengaja membuka profilnya untuk umum. Ada juga yang membuka profilnya untuk dilihat oleh orang-orang yang telah ‘disetujui’ dan ‘dipastikan’ (confirmed) untuk jadi temannya. Lewat sistem seperti ini kita tidak perlu ragu menaruh data pribadi tentang diri kita. Di Facebook, contohnya, kita bisa buka-bukaan, tampil apa adanya dan merasa nyaman karena mereka yang kita konfirm adalah orang-orang yang ingin kita bawa masuk ke dunia komunitas kita.

Steve Jones, seorang professor ilmu komunikasi di Chicago, mengatakan bahwa selama ini ada pemikiran yang salah. Di dunia online terlihat betul bahwa orang-orang cenderung menjauhkan apa-apa yang sifatnya pribadi bukan ke mereka yang tak dikenal, tapi justru kepada orang yang mereka kenal dekat. Artinya mereka tidak peduli apakah yang mereka share di dunia online itu dilihat oleh orang-orang umum. Tapi mereka sangat peduli ketika hal-hal yang sifatnya private justru dilihat oleh orang yang mereka kenal dekat.

Apa yang dibilang oleh Steve Jones mungkin ada benarnya. Situs jejaring sosial yang bermunculan sampai sekarang yang pasti telah membuat kata "teman" jadi lebih blur. Di dunia online seperti ini, orang asing (strangers) kita anggap teman, sedangkan dengan teman yang notabenenya adalah teman kita sebenarnya atau orang yang kita kenal dekat, justru kita malah berinteraksi dengan canggung.

Pertanyaan confirm or ignore yang dilematis ini tidak hanya dirasakan oleh anak-anak ketika mendapat friend request dari para orang tua di rumah. Di kantor pun fenomena yang sama juga dirasakan oleh para karyawan ketika ingin ‘berteman’ dengan boss-nya. Jared Sandberg menulis hal ini di artikel berjudul “OMG -- My Boss Wants to 'Friend' Me On My Online Profile” yang dimuat di harian Wall Street Journal.

Seperti yang ditulis di sana, dengan adanya Facebook, hubungan yang hirarkis antara atasan dan bawahan di dunia offline, mendadak terlihat horizontal di dunia online. Dan pada akhirnya sisi pribadi sesungguhnya dari boss dan karyawan jadi terlihat betul. Meskipun demikian banyak karyawan yang tidak rela untuk berteman dengan boss-nya di Facebook, karena itu tandanya ia harus mengorbankan segala bentuk hal yang sifatnya personal. Begitu juga sebaliknya dengan si boss ketika di add sebagai teman di Facebook oleh anak buahnya.

Confirming the Community

Satu yang dapat dijadikan alasan kenapa fenomena yang diceritakan di atas terjadi adalah karena pada dasarnya karakter si ibu tidak relevan dengan tujuan, identitas, dan nilai-nilai yang miliki oleh komunitasnya si anak. Meskipun sama-sama ‘on’ di dunia Facebook, bukan berarti para orang tua bisa ‘in’ ke dunia komunitas jejaring sosial anaknya. Karena untuk masuk ke sana, diperlukan karakter yang sejalan dengan tujuan, identitas, dan nilai-nilai yang dijunjung tunggi oleh komunitas anaknya.

Dulu di era legacy, aktivitas targeting the segment menjadi langkah strategi yang menentukan gerak-gerik arah pemasaran suatu perusahaan. Di sana konsumen yang menjadi target pasar dieksploitasi oleh pemasar lewat 4P-nya (product, price, place, and promotion). Dan itu semua dilakukan tanpa peduli, suka-tidak suka, setuju-tidak setuju, selama konsumen menjadi target market sebuah perusahaan, konsumen akan menerima bentuk eksploitasi tersebut.

Di era New Wave ini, praktek yang demikian menjadi tidak lagi relevan. Sejalan dengan apa yang dibahas kemarin, kita tidak lagi berbicara tentang targeting the segment namun confirming the community. Karena di era pemasaran seperti ini, orientasi pemasaran berbasiskan komunitas konsumen yang saling kenal bukan lagi segmen konsumen yang tidak kenal satu sama lain. Praktek yang dilakukan dalam rangka konfirmasi terhadap (dan oleh) komunitas ini sendiri bernuansakan horisontal, karena pada dasarnya langkah ini dijalankan dua arah.

Bukan saja perusahaan yang mengkonfirm sebuah komunitas karena kemiripannya dengan karakter merek perusahaan, namun juga si komunitas sendiri harus mengkonfirm bahwa perusahaan yang ingin masuk ke dalam komunitas tersebut adalah ‘teman’ yang baik.

Hal yang terpenting yang harus dilakukan oleh pemasar dalam hal ini adalah mencari relevansi antara komunitas dan perusahaan. Percuma saja kalau sebuah komunitas jumlah anggotanya banyak, pertumbuhan jumlah anggotanya juga terus meningkat. Namun, ternyata komunitas tersebut tidak punya relevansi yang sama dengan kita alias tidak punya identitas dan nilai-nilai yang sama.


Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/09/30/09435572/ibu.saya.bukan.teman.facebook.saya

Bukan Sekedar Gratis

Selasa, 13 Oktober 2009 | 08:13 WIB

KOMPAS.com - King Camp Gillette adalah nama seorang inventor yang legendaris. Bukan saja karena ia berhasil membuat merek pisau cukur yang telah mendunia, namun filosofi bisnisnya memang sangat revolusioner. Berasal dari Chicago, Amerika, Gillette adalah seorang pebisnis yang anti-kapitalisme, yang percaya bahwa pada akhirnya sebuah korporasi sudah seharusnya dimiliki oleh rakyat, ketimbang segelintir golongan orang kaya.

Ia juga pemasar yang handal. Langkah pemasaran yang ia lakukan ketika didasari oleh kesadarannya bahwa alat cukur dianggap komoditas biasa yang tak berguna tanpa pisaunya. Maka itu, langkah pemasaran yang ia lakukan ketika itu adalah membagikan alat cukurnya secara cuma-cuma dan mengambil untung dari pisaunya.

Gillette kemudian menjadi merek cukur yang populer ketika itu dan bahkan hingga sekarang. Semuanya dilakukan karena praktek pricing yang secara tradisional dikenal sebagai cross-subsidy atau secara modern pemasaran gratis dalam tanda kutip yang ia perkenalkan. Di mana menggratiskan sesuatu kepada konsumen adalah langkah pemasaran yang lebih dari gimmick yang sifatnya taktikal, namun sebuah bagian dari strategi keseluruhan.

Praktek pemasaran seperti ini sekarang sudah umum. Contohnya, semakin banyak pemasar di industri seluler yang memberikan ponselnya secara cuma-cuma namun yang dijual adalah paket bulannya. Juga kita lihat di industri printer, meskipun tidak sampai gratis, tapi harga sebuah printer sudah semakin murah, dan yang dimahalkan adalah tintanya. Juga dapat kita lihat di industri game console, harga Playstation, Xbox, Nintendo dan lain sebagainya makin lama makin murah, namun yang ’dimahalkan’ adalah CD untuk memainkan gamenya. Jika Anda seorang pemasar produk alat bikin kopi yang dijual ke kantor-kantor, mungkin Anda bisa gratiskan alatnya, namun yang dijual mahal adalah kopinya.

Cerita mengenai Gillette dan praktek ‘gratis’ ini dikupas oleh Chris Anderson di dalam Freenomics, yang mengatakan bahwa masa depan ada pada harga nol, alias gratis. Contohnya sudah semakin banyak di berbagai industri, mulai dari industri penerbangan sampai industri musik.

Kalau dilihat di dunia internet, sudah banyak perusahaan yang menawarkan layanan gratis, mulai dari Skype hingga YouTube. Mereka dapat menarik banyak pengguna dengan sebuah layanan gratis seperti ini, sembari berharap sebagian di antara mereka meng-upgrade diri menjadi pelanggan premium yang menawarkan fitur-fitur lebih baik. Layanan seperti ini ditawarkan begitu murah, karena marginal cost, biaya untuk pelanggan gratisan begitu kecil sehingga tidak masalah bagi mereka untuk menawarkan secara gratis.

Konsep freenomics yang diusulkan oleh Chris Anderson memang valid. Apalagi jika semakin banyak perusahaan yang menyediakan platform, maka lama kelamaan kita akan melihat praktek pricing gratis dan premium (freemium) akan ada di mana-mana.

Menurut kami sendiri, konsep free apakah itu lewat subsidi atau malah freemium akan semakin membanjir. Satu yang pasti adalah karena dunia New Wave adalah dunia yang horizontal, pada akhirnya penentapan suatu harga harus dilakukan bersama-sama. Karena produknya sendiri di-co-create bersama pelanggan. Maka dari itu penetapan harga harus melalui pendekatan negosiasi yang horizontal. Dengan demikian harga menjadi semakin dinamis karena informasi untuk menetapkan suatu harga berkembang dari mana-mana dan semua serba transparan.


Markplus Waizly Darwin,Hermawan Kartajaya

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/10/13/08133122/bukan.sekedar.gratis

Sabtu, 10 Oktober 2009

Price is Currency

Senin,12 Oktober 2009 | 19:53 WIB

HERMAWAN KERTAJAYA. KOMPAS.com - Pricing memiliki kekuatan super. Orang bisa beli karena pricing. Dari yang tadinya tidak mau beli, tapi malah jadi beli karena ’panas’ melihat harganya yang menggiurkan. Orang bisa pula tidak jadi beli karena setelah liat harganya yang tidak pas. Tapi ada juga orang yang membeli karena harganya meskipun kemahalan ya nggak apa-apa, karena membantu meningkatkan statusnya di mata temannya.

Pricing adalah masalah antar fungsi di dalam internal perusahaan. Untuk orang keuangan di perusahaan, pricing menjadi perhatian karena keterkaitannya untuk costing. Buat orang marketing, pricing menjadi perhatian orang marketing karena keterkaitannya dengan praktek promosi pemasaran di lapangan. Buat orang sales, pricing tentunya menjadi perhatian tersendiri karena harga menentukan penjualan.

Kalau pricing itu tidak dianggap penting oleh semua orang di perusahaan, pastinya jadi repot. Peranan pricing sangat besar seakan-akan ia adalah nyawanya perusahaan. Kalau sampai salah menentukan, impact-nya terhadap omset dan profit akan sangat terasa.

Pricing bukan sekedar ingin mencapai terjualnya volume yang lebih tinggi, dan juga bukan sekedar untuk menghasilkan di jangka pendek, tapi pricing itu sangat penting karena efeknya terhadap profit secara bottom-line. Di dalam Pricing Advantage, Michael Marn mengemukakan hasil risetnya bahwa jika sebuah harga dinaikan satu persen, cateris paribus di saat yang bersamaan fixed cost dan variable cost tetap, maka keuntungan operational (operating profit) produk tersebut bisa naik jadi 11 persen.

Dibanding dengan aspek lain, contohnya jika variable cost yang diturunkan sebesar satu persen, efeknya terhadap operating profit hanya 7,3 persen. Apabila fixed cost yang diturunkan sebesar satu persen, impact-nya terhadap operating profit hanyalah 3,2 persen. Di dalam skenario lain, apabila volume yang diperbanyak sebesar satu persen, Michael Marn mengatakan bahwa efeknya tidak sebesar jika anda menaikan harga, karena volume naik satu persen kira-kira sama dengan peningkatan profit sebesar 3,7 persen.

Turun harga boleh-boleh saja, asal terjamin elastisitasnya tinggi, gross margin-nya bisa tinggi, dan juga tentunya tidak merusak brand image. Kalau tahu betul bagaimana menggunakan pricing yang tepat, maka pemasar kemungkinan besar akan mendatangkan value kepada perusahaan. Sebaliknya, jika tidak tahu bagaimana menggunakan pricing yang benar, maka yang terjadi adalah bencana.

Di dalam era legacy, penentuan harga bisa didasari oleh empat hal. Pertama, harga yang ditentukan atas pertimbangan gejolak pasar (market-based pricing) adalah sangat konvensional. Di sini pemasar hanya menjadi price-taker ketimbang price-maker. Penentuan harga didasari oleh hukum penawaran dan permintaan yang ada di pasar. Kalau permintaan meningkat sementara penawarannya tetap atau malah menurun, sudah tentu harganya akan naik. Begitu pula sebaliknya. Kalau pasokan barang berlimpah di pasar sementara permintaan dari pelanggan tetap, harganya akan turun pula. Jika terjebak di dalam pricing seperti ini, maka pemasar juga terjerumus dalam permainan industri. Padahal tugas seorang pemasar adalah bagaimana menciptakan permainan baru di industri. Dan pemasar yang handal adalah pemasar yang bisa lepas dari hukum supply dan demand.

Kedua, adalah melalui cost-based pricing. Formulanya sudah terkenal yaitu ongkos ditambah keuntungan untuk mark-up sama dengan pricing. Dalam bahasan gampangnya, kita harus tahu biaya berapa dan minta profit berapa, baru ditentukan harganya berapa.

Ketiga adalah melalui competitor-based pricing. Di sini perusahaan sudah punya data harga produk serupa dari pesaing yang ada di pasar. Tinggal kemudian perusahaan menetapkan apakah akan memasang harga di atas, di bawah atau pada tingkat harga rata-rata produk serupa yang sudah ada di pasar.

Keempat adalah melalui value-based pricing. Di sini perusahaan menetapkan harga berdasarkan nilai (value) produk tersebut di mata pelanggan, Ini dilakukan jika produk tersebut merupakan produk inovatif yang memiliki competitive advantage dibanding produk lainnya.

Keempat hal tersebut sejalan dengan model 4C di era legacy. Market-based pricing adalah tentang menentapkan harga atas pertimbangan ruang lingkup perubahaan pasar (Change). Cost-based pricing adalah bagaimana kita menetapkan harga atas dasar dinamika biaya di dalam internal perusahaan (Company). Competitor-based pricing adalah bagaimana kita melakukan benchmarking harga terhadap pesaing (Competitor). Value-based pricing adalah bagaimana kita menetapkan harga setelah melihat pelanggan sisi dinamika perubahan nilai pelanggan (Customer).

Di era New Wave, praktek pricing juga berubah karena tiga hal. Pertama, New Wave adalah era yang horisontal bukan lagi vertikal, praktek perusahaan melakukan pricing akan lebih horisontal di mana melewati proses negosiasi dengan pelanggan. Kalau dulu di era Legacy, pemasar dapat bergerak dari price taker menjadi price maker, maka di era new wave seperti ini tugas dari pemasar adalah bagaimana bergerak dari price maker menjadi price facilitator. Karena pada akhirnya price akan ditentukan secara bersama tidak lagi satu pihak.

Kedua, karena adanya Connector (C kelima), maka dinamika harga dan biaya akan semakin naik turun secara transparan. Konsumen akan tahu harga yang pas sebetulnya berapa. Dan bukan itu saja, mereka pun akan tahu bahwa sedikit banyak elemen-elemen biaya yang sesungguhnya. Informasi tentang harga dan biaya toh sudah semakin gampang dilacak.

Ketiga, pemasar menjual produknya yang di co-create bersama komunitas pelanggan. Artinya produk yang dijual bisa saja di-customized sesuai dengan keinginan pelanggan, bisa juga diciptakan sendiri oleh konsumen yang semakin komunal. Produk seperti ini pada akhirnya milik bersama, bukan yang sifatnya mass, namun milik komunitas tertentu.


Diambil dari: http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/10/12/19531419/Price.is.Currency